Blog

  • Sidang Lanjutan Pengujian Undang-Undang Guru dan Dosen Ke-VI

    Sidang Lanjutan Pengujian Undang-Undang Guru dan Dosen Ke-VI

    Pagi ini, 20/03/2019 Pk 11.00 WIB, Mahkamah Konstitusi akan kembali menggelar sidang lanjutan Pengujian UU Guru dan Dosen yang diajukan oleh seorang Pendidik PAUD Nonformal. Agenda persidangan hari ini adalah pemeriksaan 2 saksi (fakta) dari Pemohon, dan Pemeriksaan 2 Ahli dari Pemerintah.

    Sebelumnya pada sidang yang lalu 14/03/2019 Ahli Hukum yang diajukan Pemohon a.n Heru Susetyo SH. LL.M. M.Si. Ph.D menegaskan terdapat perlakuan yang tidak sama pada pendidik PAUD Nonformal dengan berlakunya ketentuan pasal 1 angka 1 dan pasal 2 ayat (1) UU Guru dan Dosen. Pendidik PAUD Nonformal tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses hak-hak profesi nya sebagai guru.

    Ahli Pemohon dalam sidang lalu juga menegaskan bahwa definisi dan kedudukan guru dalam kedua pasal tersebut bersifat diskriminatif karena hanya mengakui pendidik PAUD Formal saja sebagai guru, Sementara pendidik PAUD Nonformal tidak. Padahal keduanya punya tugas dan beban kewajiban yang sama. Anak didik yang diajarkan sama (0-6 Tahun) dan dengan kurikulum yg sama pula. Namun ketika berbicara hak dan pengembangan diri (kompetensi), kesempatan yang diberikan justru berbeda.

    Kehadiran saksi (fakta) pada hari ini bertujuan untuk menerangkan secara real seperti apa dan bagaimana layanan satuan PAUD Nonformal itu dijalankan di lapangan. Betulkah ada perbedaan signifikan dengan PAUD Formal sehingga negara merasa perlu membeda-bedakan perlakuan kepada para pendidik nya? semua itu akan diterangkan Saksi Pemohon secara terperinci dalam sidang pagi hari ini.

    Demikian kami sampaikan, Semoga Allah SWT membantu menguatkan Mahkamah dalam memutus permohonan ini seadil-adilnya ( Ex Aequo Et bono ).


    Untuk membantu memahami latar belakang dan tujuan pengujian ini, klik artikel tulisan di sini.

  • Nobar Film Iqro, Pemeran Tokoh Thomas Diungkap

    Nobar Film Iqro, Pemeran Tokoh Thomas Diungkap

    Tulisan ini merupakan sebuah pengalaman yang disampaikan oleh Rinrin Noorfaidah.
    Assalaamu’alaikum Wr Wb
    Nama Kegiatan : Undangan Nonton Bareng Eksklusif Film Iqro,  Petualangan  Meraih  Bintang
    Waktu dan tempat : TSM XXI Bandung Super Mall Jl Gatsu Bandung
    Minggu,  22 Januari 2017
    Pelaksana : Ketua PD HIMPAUDI KBB – Rinrin Noorfaidah
    Deskripsi Kegiatan :
    Alhamdulillah..  Setiap kejadian tidak ada yang kebetulan.
    Pagi itu lepas dari jam 07.00 saya ditelepon bu Hinhin mengabari undangan menonton film Iqro untuk ketua organisasi  se Bandung Raya Dsk.
    
    “asslmlkm…
    perkenalkan..
    kami
    dr masjid salman itb.
    teater menara.
    juga dr bkpaksi jabar.
    kami timses film  iqro ditugaskn u menyampaikan informasi/
    UNDANGAN NOBAR  EXCLUSIVE  FILM IQRO.
    dg
    BKPAKSI JABAR,KONSORSIUM INDONESIA CERDAS ,
    PEGADAIAN SYARIAH.
    GRATIS.
    KHUSUS U UNDANGAN.
    Pimpinan Organisasi.
    dimohon konfirmasi kehadiran atau yg mewakili organisasi yg ibu/ bapak pimpin yg siap hadir
    untuk kami siapkan  tempat
    NOBAR FILM IQRO,
    DI TRANS STUDIO.TSM XXI,
    jl GATOT SUBROTO BANDUNG.
    AHAD, 22 JAN 2017.
    jam 09.00-11.00.
    dress code busana muslim rapih sopan. biru/putih/ biru putih.
    konfirmasi kehadiran ke kang hendra
    085721678576
    & umy nia syafei 081574908700.
    mohon maaf ,u kelancaran acara
    ditunggu  konfirmasi kehadirannya segera..
    sebelum magrib.
    tks.
    timses film iqro bkpaksi jabar.
    
    Walaupun waktunya terbatas dengan sigap disikapi memaksakan hadir dengan pertimbangan :
    Pertama gaung film ini sudah lama terdengar dan direkomendasi Walikota Bandung pak Emil dan Aa Gym.
    Kedua, film religi atau saya lebih senang menyebutnya film berkualitas tidak banyak sehingga merasa  terpanggil  untuk  menyaksikan, mengapresiasi dan atau mensosialisasikan sekaligus mengajak menonton film tsb agar syiar Islam yang mulai pudar bangkit kembali semangatnya demi generasi qurani yang lebih baik menuju kejayaan  Islam.
    Ketiga, salah satu pemain film tersebut yang memerankan tokoh Thomas mahasiswa yang sedang belajar adalah salah satu pengurus wilayah HIMPAUDI Jabar (Bidang Humas dan Kerjasama, Red),  yanda Nur Alamsyah ananda dari Bunda Anna Anggraeni (Ketua PW periode sebelumnya, Red).
    By the way sebelum berangkat saya menelepon pihak terkait untuk  konfirmasi kehadiran sambil  berharap  barangkali ada  celah agar  bisa mengajak pengurus yang lain. Sayang  sekali mereka memastikan yang datang dari berbagai  organisasi, satu wakil  satu organisasi. Di lokasi saya juga bertemu  dengan bunda Eli perwakilan PW Jabar dan bunda perwakilan  PD Kota Bandung.
    Alkisah  Aqila  gadis  kecil  yang tertantang ingin membuktikan tentang planet pluto  pada saat tugas liburan yang ternyata  seiring perkembangan ilmu pengetahuan sudah  dinyatakan bukan lagi sebuah planet. Aqila berusaha  membujuk sang Opa, kakeknya seorang profesor astronomi yang berkarya di peneropongan bintang Boscha Lembang untuk membawanya dan menunjukkan fenomena alam tsb. Sang kakek yang bijak membujuk akan mengabulkan  permintaan Aqila dengan syarat cucunya tersebut sudah bisa mengaji. Singkat  cerita Aqila  berhasil bisa mengaji namun sayang sekali pada saat itu kakeknya justru kehilangan pekerjaannya karena boscha ditutup secara resmi akibat polusi cahaya dari berbagai pembangunan utamanya sebuah hotel.
    Baik sang kakek maupun Aqila pasrah dan tawakal menghadapi cobaan tersebut.  Mereka meyakini dibalik ketawakalan dan pasrah seorang hamba ada janji Allah memberikan jalan keluar dan ganti yang lebih baik. Well.. akhirnya mereka berhasil terlepas dari konflik.
    Saya jadi teringat film petualangan Sherina.  Namun saya takzim pada film besutan sutradara Iqbal Alfajri yang dibintangi Aisha Nurra Datau ini. Walaupun  tidak berbumbu gerak dan lagu namun tetap menawan, enak ditonton,  mengharukan dan memotivasi. Kemampuan akting Aisha mampu menghidupkan  karakter Aqila yang mampu menguasai gradasi emosi yang harus dimainkan nyaris dalam setiap adegan.
    Saya tidak terprovokasi berpromosi hanyakarena undangan gratis,  namun saya menyarankan Bunyan dan terutama anak PAUD dan SD bisa menyempatkan menonton film ini. Ajak handai taulan, teman dan keluarga,  apalagi warga KBB karena dalam film ini ada tempat kebanggan kita bersama peneropongan bintang boscha.  Merasa sayang bila melewatkan belajar dari hiburan film religi keluarga, di tengah derasnya berbagai akses informasi yang tidak jarang membahayakan. Mencari berkah, film ini juga didedikasikan untuk ulama kita KH.  As’ad Human,  pencipta dan penyusun metode iqro yang karyanya menjadi jalan ribuan bahkan ratusan juta anak Indonesia terlepas dari buta huruf Alqur’an.
    Tidak terasa hangat air mata menetes di pipi menandakan apresiasi yang dalam. Walaupun dengan hanya menonton sebuah film tidak serta merta bisa mengubah dunia namun setidaknya ada harapan besar agar anak Indonesia kembali menemukan jati dirinya,  ada Alquran di dadanya, ada jiwa yang penuh cinta Allah.
    Anak anak yang menghormati  para guru.
    Anak anak yang memiliki kecerdasan  ketangguhan.
    Anak anak yang energinya tidak terpelintir sehingga menyimpan kebencian.
    Anak anak berbasis sirah nabawiyah.
    Anak anak yang hatinya lembut dan menebarkan kedamaian.
    Anak anak generasi Qurani.
    Oh ya saya juga dapat souvenir  pin dan sebuah kaos bergambar film tsb hasil dari menjawab pertanyaan yang diajukan panitia 
    Wallahu alam
    Cililin,  23 Rabiul Akhir 1438 H
  • Mengedukasi Sejak Dini

    Mengedukasi Sejak Dini

    Education is the process of facilitating learning, or the acquisition of knowledge, skills, values, beliefs, and habits. Educational methods include storytelling, discussion, teaching, training, and directed research. Education frequently takes place under the guidance of educators, but learners may also educate themselves. Education can take place in formal or informal settings and any experience that has a formative effect on the way one thinks, feels, or acts may be considered educational. The methodology of teaching is called pedagogy.

    Education began in prehistory, as adults trained the young in the knowledge and skills deemed necessary in their society. In pre-literate societies this was achieved orally and through imitation. Story-telling passed knowledge, values, and skills from one generation to the next. As cultures began to extend their knowledge beyond skills that could be readily learned through imitation, formal education developed. Schools existed in Egypt at the time of the Middle Kingdom.

    The only person who is educated is the one who has learned how to learn and change.

    Carl Rogers

    A right to education has been recognized by some governments, including at the global level: Article 13 of the United Nations’ 1966 International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights recognizes a universal right to education. In most regions education is compulsory up to a certain age.

    Plato founded the Academy in Athens, the first institution of higher learning in Europe. The city of Alexandria in Egypt, established in 330 BCE, became the successor to Athens as the intellectual cradle of Ancient Greece. There, the great Library of Alexandria was built in the 3rd century BCE. European civilizations suffered a collapse of literacy and organization following the fall of Rome in AD 476.

    In China, Confucius (551-479 BCE), of the State of Lu, was the country’s most influential ancient philosopher, whose educational outlook continues to influence the societies of China and neighbors like Korea, Japan and Vietnam. Confucius gathered disciples and searched in vain for a ruler who would adopt his ideals for good governance, but his Analects were written down by followers and have continued to influence education in East Asia into the modern era.

    After the Fall of Rome, the Catholic Church became the sole preserver of literate scholarship in Western Europe. The church established cathedral schools in the Early Middle Ages as centers of advanced education. Some of these establishments ultimately evolved into medieval universities and forebears of many of Europe’s modern universities. During the High Middle Ages, Chartres Cathedral operated the famous and influential Chartres Cathedral School.

    The medieval universities of Western Christendom were well-integrated across all of Western Europe, encouraged freedom of inquiry, and produced a great variety of fine scholars and natural philosophers, including Thomas Aquinas of the University of Naples, Robert Grosseteste of the University of Oxford, an early expositor of a systematic method of scientific experimentation, and Saint Albert the Great, a pioneer of biological field research. Founded in 1088, the University of Bologne is considered the first, and the oldest continually operating university.

  • Women Empowerment and Employment

    Women Empowerment and Employment

    The feminist movement (also known as the women’s liberation movement, the women’s movement, or simply feminism) refers to a series of political campaigns for reforms on issues such as reproductive rights, domestic violence, maternity leave, equal pay, women’s suffrage, sexual harassment, and sexual violence, all of which fall under the label of feminism and the feminist movement. The movement’s priorities vary among nations and communities, and range from opposition to female genital mutilation in one country, to opposition to the glass ceiling in another.

    Third-wave feminism is continuing to address the financial, social and cultural inequalities and includes renewed campaigning for greater influence of women in politics and media. In reaction to political activism, feminists have also had to maintain focus on women’s reproductive rights, such as the right to abortion.

    “I am no bird; and no net ensnares me: I am a free human being with an independent will.”
    ― Charlotte Brontë, Jane Eyre

    Feminism in parts of the western world has gone through three waves. First-wave feminism was oriented around the station of middle- or upper-class white women and involved suffrage and political equality. Second-wave feminism attempted to further combat social and cultural inequalities.

    The women’s movement became more popular in May 1968 when women began to read again, more widely, the book The Second Sex, written in 1949 by a defender of women’s rights, Simone de Beauvoir, (and translated into English for the first time in 1953; later translation 2009). De Beauvior’s writing explained why it was difficult for talented women to become successful. The obstacles de Beauvoir enumerates include women’s inability to make as much money as men do in the same profession, women’s domestic responsibilities, society’s lack of support towards talented women, and women’s fear that success will lead to an annoyed husband or prevent them from even finding a husband at all.

    De Beauvoir also argues that woman lack ambition because of how they are raised. Girls are told to follow the duties of their mothers, whereas boys are told to exceed the accomplishments of their fathers. Along with other influences, Simone de Beauvoir’s work helped the feminist movement to erupt, causing the formation of Le Mouvement de Libération des Femmes (The Women’s Liberation Movement). This determined group of women wanted to turn these ideas into actions.

    Contributors to The Women’s Liberation Movement include Simone de Beauvoir, Christiane Rochefort, Christine Delphy and Anne Tristan. Through actions the women were able to get few equal rights for example right to education, right to work, and right to vote. One of the most important issues that The Women’s Liberation movement faced was the banning of abortion and contraception. The women saw this banning as a violation of women’s rights and were determined to fight it. Thus, the women made a declaration known as Le Manifests de 343 which held signatures from 343 women admitting to having had an illegal abortion.

  • Surat Penerbitan NUPTK bagi GTK Formal & Non Formal 2016

    Surat Penerbitan NUPTK bagi GTK Formal & Non Formal 2016

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan pada 28 Desember 2015 lalu mengeluarkan surat bernomor 14652/B.82/PR/2015 yang berisi perihal penerbitan NUPTK bagi guru dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal dan non formal di tahun 2016.

    Berikut surat tersebut agar dipahami oleh Guru dan Tenaga Kependidikan untuk mendapatkan semua layanan atau program dan kegiatan pada Ditjen Guru dan Kependidikan.

  • Mendikbud Anies: Kurikulum 2013 Tetap Dilaksanakan Bertahap

    Mendikbud Anies: Kurikulum 2013 Tetap Dilaksanakan Bertahap

    Jakarta, Kemendikbud—Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyesalkan manipulasi pemberitaan melalui media daring dan media sosial terkait penerapan kembali kurikulum tahun 2006 pada tahun 2016. Sementara berita tidak benar itu berasal dari tautan berita lama ( 2014) yang diunggah kembali. Ditemui usai menghadiri rapat kerja bersama dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI bertajuk Rancangan Anggaran 2016, Senin malam (14/12/2015), Mendikbud mengungkapkan, pemberitaan itu adalah manipulasi informasi, yang dapat menimbulkan kebingungan.
    “Ini tindakan sangat tidak terpuji, manipulasi informasi, sedang dipertimbangkan untuk menempuh tindakan hukum,” ujarnya, di Jakarta, Senin (14/12/2015).
    Sebagai informasi, ada beberapa situs dan akun media sosial Facebook yang gencar menghembuskan isu mengenai penerapan Kurikulum 2006 dengan  judul pemberitaan ” Semua Sekolah Wajib Kembali ke Kurikulum 2006, Mulai Semester Genap Tahun 2015.” Pemberitaan tidak benar itu telah pernah diunggah pada awal Desember 2014, kemudian diunggah kembali pertengahan Desember 2015 sehingga mengesankan sebagai berita Baru mengenai kebijakan baru Kemendikbud.
    Mendikbud mengungkapkan akan mempertimbangkan langkah hukum atas lansiran media daring yang berisi penerapan kurikulum tahun 2006 tersebut.“Kami mempertimbangkan langkah hukum karena diposting di website, pengunjung website jadi tinggi, rating iklan meningkat. Itu menjangkau yang salah, karena berita tidak benar,” tegas Menteri Anies.
    Mendikbud menegaskan untuk tidak mengembalikan kurikulum kepada kurikulum tahun 2006. “Tidak pernah ada rencana (kurikulum) kembali ke tahun 2006, mengenai penerapan dua kurikulum itu adalah peralihan kurikulum ada periode transisi. Sehingga, ada sekolah yang secara bertahap menerapkan, ada yang belum,” jelas Mendikbud Anies.
    Perkembangan penerapan kurikulum 2013, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menjelaskan satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013. Batas waktu penggunaan kurikulum tahun 2006 adalah paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020.
    Sedangkan, satuan   pendidikan   dasar   dan   pendidikan   menengah   yang   telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester tetap menggunakan Kurikulum 2013. Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang belum melaksanakan  Kurikulum   2013   mendapatkan   pelatihan   dan pendampingan bagi kepala satuan pendidikan, pendidik, tenaga kependidikan, dan pengawas satuan pendidikan. Pelatihan dan pendampingan sebagaimana dimaksud adalah bertujuan meningkatkan penyiapan pelaksanaan Kurikulum 2013. ***

  • Meraih Rekor Muri Makan Ikan Se-Indonesia

    Meraih Rekor Muri Makan Ikan Se-Indonesia

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan  Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) memperoleh piagam Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil menyelenggarakan acara dengan tema “Aku Cinta Maritim dan Suka Makan Ikan.” Dalam kegiatan tersebut MURI mencatat ada 68.039 anak di seluruh Indonesia serentak makan ikan dan finger painting sehingga berhasil mendapatkan penghargaan Muri Rekor Dunia.

    Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan peningkatan dan pemerataan konsumsi ikan nasional agar tercipta generasi bangsa yang cerdas, sehat dan kuat. Selain itu juga mengantisipasi krisis daging di tanah air. Kegiatan ini juga bertepatan dengan HUT HIMPAUDI ke-10 yang digelar serentak di seluruh Indonesia.
    KKP menyambut dengan gembira kegiatan ini karena upaya pembinaan gizi dan kesehatan anak membutuhkan kerja sama berbagai pihak sehingga tercipta generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas. Apalagi dengan potensi kelautan yang besar diyakini akan mampu melahirkan generasi bangsa yang besar dengan kualitas kecerdasan manusia yang tinggi.
    Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Perikanan dan Kelautan KKP, Nilanto Perbowo, KKP ingin mensosialisasikan ke masyarakat luas, bahwa ikan sangat bermanfaat bagi kesehatan. “Targetnya kita ingin mensosialisasikan  ke masyarakat luas, ikan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kita mendorong supaya masyarakat luas bisa mengkonsumsi ikan sebanyak mungkin untuk kehidupan sehari-harinya”, jelas Nilanto, saat ditemui KKPNews, di bazaar Produk Ikan, Lapangan Parkir Timur Senayan Jakarta, di hari puncak perayaan Hari Ikan Nasional ke-2, Minggu (22/11).

    Sementara dengan adanya Hari Ikan Nasional ke-2, Nilanto ingin mendorong konsumsi ikan perkapita naik. Selain itu, masyarakat juga dapat terus mengkonsumsi ikan segar meski sudah mengalami proses pengolahan. “Dengan adanya Harkannas ini, saya juga berharap konsumsi ikan perkapita naik. Saya juga menginginkan, masyarakat dapat terus mengkonsumsi ikan segar meski sudah diolah”, pungkasnya.
    Seperti diketahui, Himpaudi saat ini sudah terbentuk di 34 Provinsi, 416 kabupaten, 98 kota dan 982 Kecamatan serta tingkat Pusat. Dalam hari jadinya yang ke-10, Himapaudi bekerja sama dengan KKP mengajak anak-anak  Indonesia agar cinta maritim, cerdas dan suka makan ikan.

    Inilah Piagam MURI yang diperoleh Atas Rekor Makan Ikan oleh Anak Usia Dini secara serentak di Lokasi dan Jumlah Terbanyak, tepat dua bulan yang lalu saat peringatan HUT ke 10 HIMPAUDI se-Indonesia.
    Posted by Himpaudi Jawa Barat on 30 Oktober 2015

    Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menumbuhkan cinta tanah air dan suka makan ikan bagi Anak Usia Dini yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia.  Di Jakarta, acara ini digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dipenghujung Agustus lalu. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong kurikulum pembelajaran PAUD untuk terwujudnya kecintaan maritim dan gemar makan ikan.

    Sumber berita: http://kkpnews.kkp.go.id/index.php/68-039-anak-serentak-makan-ikan-kkp-dan-himapaudi-terima-piagam-muri/ 
  • Bismillah Jabar Ngahiji Jabar Kahiji

    Bismillah Jabar Ngahiji Jabar Kahiji

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nunc porttitor lacinia felis, ac consequat odio convallis a. Sed cursus elit non velit porta, vel accumsan leo sodales. Etiam pellentesque vitae enim eget accumsan. Nullam rutrum, ligula eget aliquam fringilla, sem diam maximus lacus, sit amet viverra lorem ante id magna. Aliquam ac nulla velit. Morbi nisi lectus, ultricies in ante nec, malesuada commodo metus. Nunc facilisis egestas pharetra. Nulla dignissim ac metus sit amet mattis. Aenean interdum venenatis augue, id vehicula eros aliquet cursus. Interdum et malesuada fames ac ante ipsum primis in faucibus. Fusce tempor faucibus enim sed scelerisque. Nam eu congue mauris. Suspendisse dapibus et massa nec pharetra.

    Vivamus faucibus, purus ut rutrum elementum, nulla nisi sollicitudin ex, a facilisis mauris dui in elit. Donec eu mauris in diam dictum feugiat. Cras lacus mi, suscipit nec orci sit amet, congue mattis nulla. Duis hendrerit, augue at convallis volutpat, orci eros facilisis sem, sed laoreet felis tellus at nisl. Etiam vulputate mi vitae nibh dignissim, sit amet convallis odio hendrerit. Cras tempor elit vel arcu tincidunt, pellentesque malesuada turpis convallis. Phasellus pharetra commodo finibus. Nulla facilisi. Duis vel felis id lorem commodo dapibus. Suspendisse ac ultricies nisl. Vivamus euismod ullamcorper venenatis.

    Nam eleifend sagittis imperdiet. Praesent auctor faucibus felis, a convallis nibh bibendum sit amet. Nullam ut malesuada dolor. Nullam ut tortor id eros bibendum tristique. Ut eget fringilla leo. Donec mollis metus in neque tincidunt, a mollis nunc sollicitudin. Fusce convallis pretium metus id porttitor. Vestibulum id sodales magna, ac mattis leo. Vestibulum tempus enim eu nisi sodales maximus.

    Donec fringilla elit dolor, in mollis ex semper ac. Mauris metus justo, sodales quis interdum quis, pulvinar vitae eros. Vestibulum ante ante, lobortis vel accumsan eget, condimentum et urna. Nulla et justo turpis. Duis cursus justo id accumsan lobortis. Aliquam tempor neque vitae ultricies dictum. Aenean et iaculis metus. Curabitur lobortis libero eget auctor venenatis. Suspendisse potenti. Donec fringilla, tortor at porttitor hendrerit, dolor purus convallis arcu, in porttitor erat felis vel est. Quisque aliquam lobortis nibh sed semper.

    Donec eu felis imperdiet, aliquam sem non, volutpat ipsum. Nulla posuere magna odio, non hendrerit massa dapibus at. Sed at rutrum diam, ac gravida urna. Pellentesque in dignissim nisi. Sed non tortor orci. Suspendisse nec sodales lectus. Sed pretium fermentum tincidunt.

  • Belajar Tanpa Lelah Ceria Selalu

    Belajar Tanpa Lelah Ceria Selalu

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nunc porttitor lacinia felis, ac consequat odio convallis a. Sed cursus elit non velit porta, vel accumsan leo sodales. Etiam pellentesque vitae enim eget accumsan. Nullam rutrum, ligula eget aliquam fringilla, sem diam maximus lacus, sit amet viverra lorem ante id magna. Aliquam ac nulla velit. Morbi nisi lectus, ultricies in ante nec, malesuada commodo metus. Nunc facilisis egestas pharetra. Nulla dignissim ac metus sit amet mattis. Aenean interdum venenatis augue, id vehicula eros aliquet cursus. Interdum et malesuada fames ac ante ipsum primis in faucibus. Fusce tempor faucibus enim sed scelerisque. Nam eu congue mauris. Suspendisse dapibus et massa nec pharetra.

    Vivamus faucibus, purus ut rutrum elementum, nulla nisi sollicitudin ex, a facilisis mauris dui in elit. Donec eu mauris in diam dictum feugiat. Cras lacus mi, suscipit nec orci sit amet, congue mattis nulla. Duis hendrerit, augue at convallis volutpat, orci eros facilisis sem, sed laoreet felis tellus at nisl. Etiam vulputate mi vitae nibh dignissim, sit amet convallis odio hendrerit. Cras tempor elit vel arcu tincidunt, pellentesque malesuada turpis convallis. Phasellus pharetra commodo finibus. Nulla facilisi. Duis vel felis id lorem commodo dapibus. Suspendisse ac ultricies nisl. Vivamus euismod ullamcorper venenatis.

    Nam eleifend sagittis imperdiet. Praesent auctor faucibus felis, a convallis nibh bibendum sit amet. Nullam ut malesuada dolor. Nullam ut tortor id eros bibendum tristique. Ut eget fringilla leo. Donec mollis metus in neque tincidunt, a mollis nunc sollicitudin. Fusce convallis pretium metus id porttitor. Vestibulum id sodales magna, ac mattis leo. Vestibulum tempus enim eu nisi sodales maximus.

    Donec fringilla elit dolor, in mollis ex semper ac. Mauris metus justo, sodales quis interdum quis, pulvinar vitae eros. Vestibulum ante ante, lobortis vel accumsan eget, condimentum et urna. Nulla et justo turpis. Duis cursus justo id accumsan lobortis. Aliquam tempor neque vitae ultricies dictum. Aenean et iaculis metus. Curabitur lobortis libero eget auctor venenatis. Suspendisse potenti. Donec fringilla, tortor at porttitor hendrerit, dolor purus convallis arcu, in porttitor erat felis vel est. Quisque aliquam lobortis nibh sed semper.

    Donec eu felis imperdiet, aliquam sem non, volutpat ipsum. Nulla posuere magna odio, non hendrerit massa dapibus at. Sed at rutrum diam, ac gravida urna. Pellentesque in dignissim nisi. Sed non tortor orci. Suspendisse nec sodales lectus. Sed pretium fermentum tincidunt.